Sekolah Islam Al-Bayyinah Makassar Profil Sekolah  ·  Pendaftaran Murid Baru
Logo Al-Bayyinah Kabar Al-Bayyinah Merekam yang dikerjakan, bukan yang dijanjikan
Al Bayyinah Hijau

Keji Beling, Sang Pahlawan Kecil untuk Organ Vital

Dikenal juga sebagai pecah beling. Semak setinggi dua meter yang daunnya lama dipakai untuk meluruhkan batu ginjal dan menurunkan gula darah.

A Al Bayyinah Hijau SMP/SMA Islam Al Bayyinah Makassar
· 2 menit baca

Deskripsi Umum

Keji beling, juga dikenal dengan nama lain seperti pecah beling, enyoh keling, atau dalam bahasa ilmiah Strobilanthes crispus, adalah tanaman semak dari famili Acanthaceae. Tanaman ini banyak ditemukan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia, dan telah lama digunakan sebagai tanaman obat dalam pengobatan tradisional.

Tanaman ini tumbuh dengan tinggi antara 1 hingga 2 meter, memiliki batang yang lunak, dan daun yang berbentuk lonjong, bergerigi di tepinya, serta permukaan daunnya berbulu halus. Bunganya berwarna ungu keunguan dan tumbuh dalam tandan.

Klasifikasi Ilmiah

TaksonomiKeterangan
KingdomPlantae
SubkingdomTracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super DivisiSpermatophyta (tumbuhan berbiji)
DivisiMagnoliophyta (tumbuhan berbunga)
KelasMagnoliopsida (dikotil)
OrdoLamiales
FamiliAcanthaceae
GenusStrobilanthes
SpesiesStrobilanthes crispus (L.) Blume

Kandungan Kimia

  • Flavonoid
  • Polifenol
  • Saponin
  • Alkaloid
  • Triterpenoid
  • Kalium, natrium, dan magnesium

Manfaat Kesehatan

  • Meluruhkan batu ginjal dan batu empedu.
  • Menurunkan kadar gula darah (antidiabetik).
  • Menurunkan tekanan darah.
  • Antikanker dan antioksidan.
  • Mempercepat penyembuhan luka.
  • Membersihkan racun dalam tubuh (detoksifikasi).

Penggunaan Tradisional

Di masyarakat Indonesia, daun keji beling biasa direbus dan air rebusannya diminum secara rutin. Dalam pengobatan tradisional, daun ini digunakan untuk mengobati kencing manis, batu ginjal, disentri, dan wasir. Daun segarnya juga bisa ditumbuk untuk obat luar.

Efek Samping dan Perhatian

Meski dianggap aman dalam penggunaan tradisional, konsumsi dalam jumlah besar atau jangka panjang sebaiknya tetap di bawah pengawasan tenaga medis, karena belum banyak uji klinis jangka panjang pada manusia.


Referensi

  1. Zakaria, M., Mohd, M. A., Mat, J. (2006). Strobilanthes crispus: A review of its pharmacological properties and potential applications. Journal of Ethnopharmacology, 113(1), 1–13.
  2. Widjajakusuma, C. (2004). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta: Pustaka Populer Obor.
  3. Wiart, C. (2006). Medicinal Plants of Southeast Asia. Springer.

Tema dalam tulisan ini

Bagikan: WhatsApp

Bacaan terkait